Senin, 08 Februari 2010

Pisang Agung di Makam Agung


Dipercaya, Biasanya Selalu Ada Kejadian Besar
Setelah delapan tahun tidak lagi pernah muncul, di Makam Agung, Desa Makam Agung, Kecamatan Arosbaya, tiga batang pisang agung muncul. Oleh sebagian kalangan dipercaya, munculnya pisang agung ini adalah sebuah pertanda akan terjadinya sesuatu.
Salah satu dari tiga batang pisang yang tiba-tiba tumbuh dan nantinya menghilang tiba-tiba itu, kini sudah berumur enam bulan. Sedang dua batang lain masih baru tumbuh dua bulan lalu.

Juru kunci komplek pemakaman raja pertama kerajaan Islam Bangkalan itu meramalkan, hanya satu pisang saja yang bakal tetap hidup dan berbuah. Jika pisang tersebut terus tumbuh, orang yang percaya terhadap pertanda yang dibawa pisang agung akan menebak-nebak; apa yang akan terjadi?

Ada tiga pohon pisang agung muncul di dekat Makam Agung. Dua batang tumbuh berdekatan, sedang satunya lagi agak jauh. Tapi, diyakni, hanya satu batang saja yang bakal terus tumbuh hingga berbuah. Sedangkan dua pisang lain akan mati dan hilang.

Menurut juru kunci ke-10 komplek Makam Agung, Mat Nari, pisang agung hanya pernah dilihatnya tumbuh hingga berbuah sebanyak dua kali. Yakni pada tahun 1965 ketika terjadi pemberontakan PKI hingga turunnya Soekarno, yang kemudian diganti Soeharto sebagai presiden RI."Yang kedua, pisang agung muncul, tumbuh, dan terus hidup sampai berbuah pada tahun 1998 saat Soeharto turun," tutur Mat Nari.

Lalu, pada 2004 pisang agung sempat muncul dan tumbuh. "Tetapi tidak sampai berbuah. Hanya sampai umur lima bulan, pisang agung mati dan hilang begitu saja," kata Mat Nari.

Karena setiap kemunculannya selalu bersamaan dengan peristiwa-peristiwa besar, banyak orang yang percaya bahwa kemunculan pisang agung selalu membawa pertanda akan adanya peristiwa istimewa. Sedangkan bagi banyak orang lain, biji pisang agung banyak membawa kekeramatan. Sebab, tidak seperti pisang biji lain, biji pisang agung berbentuk biji tasbih. Dalam satu buah, bijinya mesti berjumlah 99 biji. "Bijinya sudah berlubang dan siap (diuntai) untuk dibuat tasbih," kata Mat Nari.

Keunikan fisik lain dari pisang agung adalah buahnya yang selalu berjumlah genap. Pisang biasa buahnya selalu berjumlah ganjil. "Jadi, tumbuhnya muncul tiba-tiba dari tanah di kompek Makam Agung ini. Buahnya juga tidak seperti pisang-pisang lain. Bijinya karena berbentuk tasbih, selalu dicari banyak orang," ujarnya.

Namun, menurut dia, yang paling menjadi perhatian di balik munculnya pisang agung di Makam Pangeran Onggu’, Panembahan Lemah Duwur, dan Raden Koro ini adalah pertanda yang dibawa. "Tidak tahu akan ada apa. Tapi, kalau pisang agung muncul, biasanya selalu ada kejadian besar," tadas Mat Nari.(RISANG VIMA WIJAYA)

Sumber: Jawa Pos, Jumat, 14 Sept 2007

Peneliti Bahasa Madura dari The University of Iowa


Sudah Kumpulkan 25 Cerita Rakyat, Siap Cetak

Seperti peneliti dari luar negeri lainnya, Prof William D. Davies tertarik riset di Madura karena tak banyak penelitian tentang Madura. Sesuai bidangnya di linguistik, William meneliti tentang Bahasa Madura.

Director of Graduate Studies dari The University of Iowa, yang mengajar bahasa bangsa-bangsa di universitasnya ini, turun meneliti tentang tatabahasa Madura pada 2004. Selain tentang bahasa, William juga mengumpulkan cerita rakyat Madura (folklore). Untuk kedua riset ini, sedikitnya dia empat kali turun ke Madura. "Penelitian mengenai Bahasa Madura itu, saya lebih fokus pada masalah sintaksis," kata Wiliam saat di kunjungan ke Jawa Pos di Graha Pena Surabaya (9/10).

Saat turun ke Madura, William menemukan beberapa berbedaan kata antara satu daerah dengan daerah lainnya di Madura. Juga adanya tingkatan dalam pemakaian bahasa, seperti kasar dan halus. Dalam penelitian, dia lebih cenderung meneliti bahasa kasar Madura yang dinilai lebih mendekati bahasa asli Madura.

Selama penelitian di Madura, William banyak ditemani Hasan Sasra, budayawan yang tinggal di Bangkalan. "Menurut saya, penelitian William lebih pada bahasa mapas (kasar, Red), karena dianggap itulah Bahasa Madura yang asli," kata Hasan Sasra yang ditemui koran ini di rumahnya kemarin siang.

Ternyata, meski meneliti tentang Bahasa Madura, Wiliam tidak bisa berbicara dengan Bahasa Madura. Ketika diajak berbicara koran ini dalam Bahasa Madura, dia hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Hanya sedikit kosa kata Bahasa Madura yang dia tahu.

Menurut Hasan, di awal datang ke Madura William cukup lumayan jika bicara berbahasa Madura. Dia sering ngobrol dengan pegawai tempat dia menginap selama di Madura dengan Bahasa Madura. "Tapi ketika saya bertemu dia di Surabaya 2006 lalu, William mengaku sudah banyak lupa Bahasa Madura. Itu karena dia jarang menggunakannya, jadinya lupa," kata Hasan.

Selain masalah tatabahasa, William juga riset tentang folklore. Ada cerita menarik kenapa dia tertarik folklore Madura. Justru itu bermula dari ketika dia tidak menemukan buku-buku cerita rakyat Madura di toko-toko buku yang dia datangi. Dia pun heran. Sejak itu dia mengumpulkan cerita-cerita rakyat Madura.

Selama mengumpulkan cerita rakyat pada 2005, William datang ke empat kabupaten di Madura. Dia juga ditemani Hasan Sasra. Bagaimana hasilnya? "Sudah 25 floklore yang saya kumpulkan dan telah ditulis ulang," kata William.

Menurut Hasan, cerita rakyat itu dikumpulkan dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Dari Bangkalan antara lain Raden Sagâra, Rato Islam Onggu’, Bânya’ Dempo Abâng, Pangpang Sè Kamantan, Sunan Cendana, Ke’ Taji, Aer Mata, Geddâng Agung.

Cerita rakyat Sampang seperti Buju’ Keppo dan Bângsacara-Ragapadmi. Dari Pamekasan antara lain Perrèng Sojjin, Ki Moko dan Aryo Menak Semoyo. Sedangkan dari Sumenep seperti Bindhârâ Saod, Sayyid Yusuf, dan Orèng Belândâ Sè Ujub.

Proses pengumpulan floklore ini pun juga menarik. Hasan menceritakan kembali dalam Bahasa Madura. Kemudian cerita itu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan Inggris. Menurut William, 25 folklore tersebut sudah ditulis dalam Bahasa Inggris. Bahkan, siap untuk dicetak. Hanya, sampai sekarang belum menemukan sponsor untuk membukukan folklore Madura itu. (mat)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 11 Okt 2007

Goa Petapan dan Goa Potre di Gunung Geger,


Tempat Tirakat, Ada yang Dapat Keris dan Besi Kuning

Bukit Geger di Kecamatan Geger sampai sekarang ramai dikunjungi. Bukan hanya karena lingkungan alamnya yang asri, bukit ini juga menjadi bagian penting legenda Madura.

Konon, Bukit Geger menjadi tempat manusia pertama yang menginjakkan kaki di bumi Madura. Ceritanya, pada abad ke 7-8 Masehi, Patih Pranggulan dari Kerajaan Medang di Kaki Gunung Semeru disebut-sebut sebagai orang pertama yang mendarat di Planggirân (tumpukan batu karang) di bukit Geger. Saat itu dia membawa Dewi Ratna Rorogung, anak Raja Medang yang sedang hamil.

Keduanya terdampar di Planggiran setelah mengarungi lautan dengan rakit. Di bukit Geger itu, Dewi Ratna Rorogung mendapat julukan Potre Koneng. Putri yang satu ini punya kebiasaan bersemedi di tepi tebing. Rutinitas itu dilakukan setiap hari menjelang matahari terbenam. Kini, batu mirip kursi itu disebut Palènggiyân (Madura, Red). Hingga akhirnya lahirlah Raden Segoro dari rahim Dewi Ratna Rorogung.

Tak hanya batu Palènggiyân, di Bukit Geger terdapat banyak situs bersejarah. Diantaranya Goa Petapan, Goa Potre, Goa Planangan, Goa Pancong Pote, dan Goa Olar. Hingga kini di lokasi tersebut banyak dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Baik masyarakat yang berasal dari Madura maupun dari luar.

Untuk masyarakat luar Jatim, kebanyakan berasal dari Cirebon, Banten, dan Tasikmalaya. Bahkan ada yang datang dari Malaysia dan Brunei. Kebanyakan, masyarakat memilih Goa Petapan dan Goa Potre untuk tempat tirakat.

Menurut kisahnya, Goa Petapan menjadi tempat bertapa Adipodai dan Goa Potre tempat bertapa Potre Koneng. Pada Abad 13, Aryo Kuda Panoleh (Jokotole) yang bergelar Seco Diningrat III hendak berperang dengan Sampotoalang -Dampo Awang (Laksamana dari Cina). Sebelum bertempur, Jokotole menghadap Adipodai di Geger. Sampai akhirnya dia mendapat senjata pamungkas berupa pecut.

Saat bertempur, Jokotole menunggangi kuda terbang. Sedangkan Dampoawang naik perahu terbang. Dalam perang tanding satu lawan satu, Dampoawang beserta perahunya berhasil dihancurkan tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Piring Dampoawang jatuh di Ujung Piring-sekarang nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah.

Nah, berawal dari cerita itu saat ini Goa Petapan dan Goa Potre dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Di dua tempat yang dianggap keramat tersebut banyak yang mendapatkan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan mistik.

Banyak orang yang tirakat di lokasi tersebut mengaku mendapat benda gaib. Seperti kisah Sukri, warga asal Kamal, yang mengaku mendapat besi kuning dan keris penangkal hujan saat bertirakat.

Selain itu, goa lain di Bukit Geger juga memiliki keunikan. Seperti Goa Pancong Pote. Goa yang berada di bibir tebing ini di saat hujan ada air yang mengalir di lantai goa yang sangat bening. Malah warnanya seperti pelangi. "Masyarakat biasa menyebutnya air tujuh warna," ujar Sekretaris Klub Pecinta Alam Kipoleng, Drs Mas Imam Lutfi.

Sedangkan di Goa Planangan, jelas Imam, terdapat stalaktit yang menjuntai ke bawah (maaf) mirip kemaluan pria. Uniknya, air yang menetes dari stalaktit diyakini bisa menambah keperkasaan pria. Sedangkan Goa Olar disebut begitu karena di depan mulut goa ada sebongkah batu yang mirip kepala ular. Goa tersebut berada di puncak bukit. (TAUFIQURRAHMAN)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 15 Okt 2007

Minggu, 27 Desember 2009

Blog Juga Bisa Untuk Cari Uang


Seorang professional blogger memiliki penghasilan yang 100% ia dapatkan dari blog. Namun sebagai blogger paruh waktu, kita juga bisa berpenghasilan melalui blog. Yaitu dengan mengikuti program-program affiliate yang bisa anda ikuti dengan gratis. Jadi gak ada resiko rugi....

Tidak semua affiliate di internet menghasilkan banyak dollar. Ada yang cuma uang receh, bahkan ada yang cuma bohong belaka. Kamu nggak mau ketipu sama affiliate kan? Jadi coba aja affiliate yang aku sarankan di bawah ini.

1. Google Adsense. Hampir semua blogger pasti pernah mengikuti affiliate yang satu ini. memang, Google Adsense adalah salah satu affiliate yang paling terkenal di dunia internet. Affiliate ini sangat cocok untuk blogger pemula karena settingnya sangat simple dan sangat mudah dipasang di blog. Namun untuk disetujui oleh adsense tidaklah mudah. Salah syaratnya adalah blog yang didaftarkan harus berbahasa inggris.
2. SEO Book affiliate adalah affiliate yang mendapatkan penghasilan dengan cara menjual buku yang berjudul SEO Book karangan Aaron Wall. Buku ini berisi tentang tip-tips dalam SEO dan dijual seharga $79. Jika berhasil menjualnya, kamu akan mendapatkan komisi sebesar $25. Lumayan kan?
3. Text Link Ads merupakan affiliate yang menurutku paling sulit untuk diikuti. Kenapa? Karena untuk mendaftar ke TLA, Page rank Blog kita harus 4 atau lebih. Kok minta gitu yaa? mungkkin karena TLA adalah broker jual beli link yang memperhatikan link quality dari link yang dimiliki publishernya. TLA tidak mau merugikan pelanggan yang telah membayar demi link.

Mungkin yang aku sarankan cuma itu yang bisa aku tunjukin. Tapi bukan berarti program affiliate yang lain jelek yaa! Affiliate kayak amazon juga bagus kok, tapi aku males ngulas...

Selasa, 22 Desember 2009

Menelusuri Sejarah Carok dan Celurit Madura

14 06 2009 110605bpotretCarok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).
PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja. Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok?Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antarpenduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M.
Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.
Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat.Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu.Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.Kondisi semacam itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.
Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda.
Sumber : posmo.wordpress.com
untungsuropati's Avatar
Masyarakat





Jawaban Terbaik Belum di Pilih oleh Pembuka: sejarah carok madura

Menelusuri Sejarah Carok dan Celurit

Carok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).

PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja. Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok?Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antarpenduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat.Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu.Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.Kondisi semacam itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda.

Suku Madura

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Suku Madura
Jumlah populasi
6.8 million (2000 census)[1]
Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan
Jawa Timur: 6.281.000.
Kalimantan Barat: 204.000.
Kalimantan Tengah: 62.000.
Bahasa
Madura, Jawa dan Indonesia.
Agama
Sebagian besar Islam dan sebuah minoritas kecil ada yang beragama Kristen.
Kelompok etnis terdekat
suku Jawa dan suku Melayu.
Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 6,8 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura tinggal di bagian timur Jawa Timur, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa.
Disamping suku Jawa dan Sunda, orang Madura juga banyak yang bertransmigrasi ke wilayah lain terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Beberapa kota di Kalimantan seperti Sampit dan Sambas, pernah terjadi kerusuhan etnis yang melibatkan orang Madura. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang, terutama besi tua dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan dan buruh.
Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang temperamental dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).
Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura.